SEORANG KOMISARIS YANG SANGAT BIJAK

Sekitar tahun 1998, saat itu telpon genggam belum marak seperti saat ini yang ada hanya telpon kabel yang hanya ada di kota kota dan radio panggil. Seorang operator radio panggil di Medan tanpa sengaja salah mengirimkan pesan dari seorang petinggi ABRI yang baginya adalah merupakan rahasia sehingga sang petinggi tersebut marah besar dan memberikan dua plihan yang berat bagi perwakilan kantor di Medan yaitu yang pertama pecat sang operator radio panggil dan yang kedua tutup kantor yang ada di Medan. Sebetulnya sang manager perwakilan Medan  akan memecat sang operator tetapi ketika berita ini sampai pusat di Jakarta sang komisaris melarang dan mengutus general manager untuk menangani kasus tersebut dengan tiga hal yang harus diperhatikan yang pertama; kantor perwakilan Medan tidak boleh ditutup, kedua kita juga harus memperhatikan nasib operator dan juga keluarganya dan yang ketiga sang petinggi ABRI yang komplain juga harus puas.

Sesampai di Medan sang general manager mengadakan rapat dengat semua team yang ada di Medan mencari akar permasalahan yang utama yang menyebabkan ada komplaint dari pelanggan secara keras, setelah jelas akar permasalahanya maka sang general manager diskusi dengan sang operator dan disuruhnya sang operator untuk membuat surat pengunduran diri dengat syarat apabila sudah mendapatkan pernyataan maaf dari sang petinggi ABRI yang dibuktikan dengan pemberian tanda tangan maka sang operator bisa bekerja kembali di perusahaan tersebut.

Kemudian sang operator radio panggil menemui sang petinggi ABRI di rumahnya dan menceritakan bahwa dirinya adalah operator radio panggil yang tanpa sengaja membocorkan berita yang dikirimkan oleh sang petinggi ABRI tersebut, setelah mengetahui bahwa yang datang adalah operator radio panggil yang membocorkan pesan yang dikirimkannya maka petinggi ABRI marah besar dan menampar dengan keras sang operator disertai dengan caci maki yang kasar tetapi sang operator tetap diam saja seperti yang sudah dipesankan oleh general manager.

Setelah cukup lama dan sang petinggi ABRI merasa puas melampiaskan amarahnya maka sang operator tadi menceritakan bahwa dirinya sudah dipecat dari perusahaan radio panggil dan sang operator juga menceritakan bahwa dirinya mempunyai keluarga dan anak yang memerlukan banyak biaya, untuk  bisa bekerja kembali di perusahaan radio panggil maka harus ada bukti bahwa sang petinggi ABRI telah memaafkan sang operator dengan bukti tanda tangan darinya.

Maka disodorkannya surat dari perusahaan untuk minta tanda tangan sebagai bukti kesalahannya telah dimaafkan, dengan membentak akhirnya sang petinggi ABRI  memberikan tanda tangannya dan berpesan supaya kesalahannya jangan sampai diulang lagi. Tiga opsi yang diemban oleh general manager telah selesai yaitu; kantor cabang tidak ditutup, sang petinggi ABRI merasa puas dan sang operatorpun masih bisa bekerja.

Diambil dari : ESQ Ary Ginanjar

Muhammad Taufik Hidayat

Trainer & Motivator

Tentang Muhammad Taufik Hidayat

I am Islamic motivator and book writer
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s