DOA SEORANG PEMENANG

BELAJAR DARI KELUGUAN ANAK KECIL

Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai dan lengah. ( HR. Ahmad )

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan yang terbuat dari kayu. Suasana saat itu sungguh sangat meriah apalagi suasana tidak panas karena awan menutupi sinar matahari, pada siang hari tersebut  merupakan babak final setelah melewati beberapa persaingan yang ketat beberapa hari yang lalu. Sekarang hanya tersisa 4 orang saja sebagai finalis dan mereka memamerkan setiap mobil mainan dari kayu yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia lomba.

Ada seorang anak bernama Naufal. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk dalam perlombaan final pada siang hari itu. Dibanding semua lawannya, mobil Naufal-lah yang paling tak sempurna dan sangat sederhana. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil buatan Naufal tersebut  untuk berpacu melawan mobil mobil kayu lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Naufal sangatlah merasa bangga dengan mobil kayu tersebut, sebab, mobil itu merupakan buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan yaitu final kejuaraan mobil balap mainan dari kayu. Setiap anak mulai bersiap siap di garis start, untuk mendorong mobil mereka sekencang-kencangnya. Pada setiap jalur lintasan lomba, telah siap 4 mobil finalis, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Naufal meminta waktu sebentar kepada panitia lomba sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”.

Dor ! Bunyi keras sebagai tanda lomba balap mobil telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo..cepat..cepat..maju..maju”, begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, ternyata Naufal-lah yang keluar sebagai sang pemenang. Ya, semuanya senang, begitu juga Naufal. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.”

Saat pembagian piala tiba. Naufal maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah agar kamu menang, bukan?”. Naufal terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang saya panjatkan kepada Allah” jawab Naufal.

Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tidaklah adil saya meminta pada Allah untuk menolong saya mengalahkan orang lain. Saya tadi hanya bermohon pada Allah, supaya nanti selesai lomba saya jangan sampai  menangis, apabila saya tidak bisa memenangkan lomba balap tersebut.”

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman teman, sikap anak-anak yang tercemin dari tindakan Naufal tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Naufal tidaklah bermohon pada Allah untuk menang dalam setiap ujian. Naufal tidak memohon Allah untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta pada Allah untuk mengabulkan semua harapannya. Ia tidak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Naufal bermohon pada Allah, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Allah untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta kepada Allah untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa kepada Allah, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Allah akan memberikan kepada kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Allah sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh karena Allah tidak akan mengangkat derajat seseorang dalam meraih sukses materi dan spiritual tanpa melalui ujian terlebih dahulu.

Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): “Barangsiapa berdo’a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do’anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya.” (Ar-Rabii’)

Tentang Muhammad Taufik Hidayat

I am Islamic motivator and book writer
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s