MENYEMBELIH BINATANG MENURUT ISLAM DAN MENURUT BARAT

PENYEMBELIHAN HEWAN CARA ISLAM ADALAH YANG TERBAIK

( BUKTI ILMIAH )

Kita semua tahu bahwa setiap tahun masyarakat Islam merayakan ibadah Qurban. Ibadah tersebut merupakan perwujudan persembahan terbaik kita kepada Allah Swt. Ibadah Qurban dilaksanakan melalui prosesi penyembelihan hewan qurban (sapi, kambing, domba, unta, dll.) dengan cara tertentu. Daging-daging binatang qurban tersebut dibagi-bagikan kepada fakir miskin, masyarakat, dan sanak kerabat.

Akan tetapi, kelebihan ini sering dikaitkan dengan suatu hadits ‘unik’ yang sering ‘diartikan lain’ oleh orang barat. Hadist tersebut berbunyi: Rasulullah SAW. bersabda :

“Sesungguhnya Allah menetapkan
kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh
hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian
menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu)
hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan
binatang yang disembelihnya” (HR. Muslim).

 

Hadits ini nampaknya agak sulit untuk dijelaskan. Betapa tidak, di dalamnya terkandung kalimat bahwa seakan Allah memerintahkan kita untuk ‘membunuh’, apalagi ada kata-kata, “…tajamkanlah pisaunya…!” Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang dilatih untuk membunuh dengan kejam. Bahkan yang lebih nyata lagi, ada kalimat, “…meringankan binatang yang disembelih!” (Aneh, bukan?! Masak membunuh koq pakai kalimat basa-basi ‘meringankan binatang yang disembelih’! Padahal kita tahu, disembelih khan tentunya sakit sekali!?).

 

Sembelih

Bagi kita, apapun haditsnya, bagaimanapun isinya, apapun konteksnya, yang jelas hadits ini adalah sebuah hadits shahih. Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa Syari’at Islam adalah syari’at yang ya’lu walaa yu’la ‘alaihi (yang terbaik dan paling baik dibandingkan yang lain).Akan tetapi, keyakinan kita sangat berbeda dengan pendapat orang-orang Barat (Yahudi dan Nashrani). Menurut mereka, Syari’at Islam adalah contoh nyata betapa Islam betul-betul tidak manusiawi dan kelompok Islam adalah kelompok orang bejat, bengis, suka berbuat kejam, dan suka menganiaya binatang ternak. Bisa dibayangkan bahwa setiap tahun umat Islam mengikat sekelompok ternak,kemudian membantainya secara beramai-ramai. Ternak-ternak tersebut tidak berdaya, hanya bisa meronta-ronta, hanya mengerang-erang kesakitan. Betapa teganya orang  Islam.

Menurut mereka orang orang barat, kalau kita ingin mengkonsumsi daging binatang ternak, maka haruslah dengan cara yang baik, tidak dengan menyiksa atau menganiaya ternak semacam itu. Cara yang terbaik, menurut mereka, adalah dengan memingsankan ternak terlebih dahulu, untuk selanjutnya disembelih setelah tidak sadar (pingsan). Pemingsanan dapat dilakukan dengan berbagai alat pemingsan, seperti : stunning gun, pembiusan, atau menggunakan arus listrik. Setelah pingsan, hewan tersebut tidak akan merasa kesakitan. Cara seperti ini mereka yakini sebagai cara yang terbaik, karena hewan tidak meronta-ronta, tidak nampak kesakitan, tidak nampak teraniaya, dan sepertinya tidak merasa sakit karena telah pingsan.

Metode pemingsanan yang dikatakan terbaik yang sering mereka lakukan adalah dengan cara memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan kecepatan tertentu dan beban tertentu. Alat yang dipakai untuk membuat pingsan adalah Captive Bolt Pistol (CBP). Cara inilah yang mereka klaim sebagai cara terbaik dan paling manusiawi. Selain itu, cara ini dapat melindungi pekerja dari kemungkinan kecelakaan.

Begitulah tuduhan dan hujatan mereka, dan nampaknya sangat sulit bagi kita untuk ‘membela diri’. Bahkan mungkin kita pun tidak bisa mengelak, atau bahkan mungkin sebagian dari kita malah membenarkan tuduhan tersebut! Na’udzu billaahi min dzaalika!

Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Menolak tanpa bisa memberi argumen  (bantahan) atau menerima dengan setengah hati? Sebegitu-sulitkah kita  meyakinkan diri bahwa Syari’at Islam adalah syari’at yang terbaik? Ingatlah akan firman Allah Swt. dalam QS. Al Baqoroh (2) : 120 yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela, hingga kamu mengikuti millah (keinginan) mereka…!”

Secara nyata dalam ayat tersebut Allah tegaskan bahwa orang-orang Barat
(terutama Yahudi dan Nashrani) selalu mencari-cari peluang dan kelemahan Islam. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menjatuhkan wibawa (izzah) Islam. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengalahkan Islam. Apabila kita terlena, maka sangatlah mungkin kita terbawa. Untuk itu, marilah kita berdo’a, berikhtiar, serta bertawakkal kepada Allah untuk menjawab masalah ini. Begitulah Kanjeng Nabi SAW. menuntun kita.

Subhaanallah, di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja
Allah Swt. telah kirimkan jawabannya melalui 2 orang staf
ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkenal di
Jerman. Beliau berdua adalah Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr.
Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian yang terstruktur
untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak
sakit,  penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsan-an),
atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan).

Prof. Dr. Schultz dan Dr. Hazim

Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat atau tingkatan rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG
(yang telah terpasang) beberapa pekan. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya disembelih secara Metode Barat.

Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan
pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu : arteri karotis dan vena jugularis). Syari’at Islam tidak merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method) mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, grafik EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman adalah sebagai berikut :

Penyembelihan menurut Tuntunan Syari’at Islam

  1. Pada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat bahwa tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
  2. Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual (bertahap) yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut unconsciousness (benar-benar kehilangan kesadaran). Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
  3. Setelah 6 detik pertama tersebut, ECG merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks gerakan koordinasi antara otak kecil dan jantung melalui sumsum tulang belakang (spinal cord). Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher, grafik EEG tidak naik, tapi justeru drop sampai ke zero – level (angka nol). Kedua ahli tersebut menterjemahkan sebagai : “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!) Allaahu Akbar! Walillaahil hamdu!
  4. Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi oleh manusia karena seperti kita ketahui bahwa darah adalah kotor karena hingga Al Qur’an melarang mengkomsumsi darah. Jenis daging semacam ini yg mengandung sangat sedikit darah diyakini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) yang menghasilkan Healthy Food. Al Qur’an juga melarang binatang yg disembelih tanpa menyebut nama Allah, melarang hewan yg mati jatuh, atau dipukul yg menyebabkan darah dalam hewan tidak keluar secara maksimal.

Sembelih1

Penyembelihan ala Barat (Western Method)

  1. Segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (pingsan). Sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga sangat mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan mudah disembelih, tanpa meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning).Sehingga darah yg tersisa masih banyak dalam tubuh binatang dan ini membahayakan karena darah mengandung banyak penyakit.
  2. Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal tersebut mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit diderita oleh ternak segera setelah kepalanya dipukul.
  3. Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop sampai batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menjalankan tugas menarik darah dari seluruh bagian organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
  4. Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khasanah ilmu dan teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM), bahwa timbunan darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/ disembelih) merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.

 

Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa pisau yang mengiris leher (ref. Syari’at Islam) tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Beliau berdua menyimpulkan bahwa ekspresi sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah akibat rasa sakit, tetapi hanyalah ekspresi ‘keterkejutan saraf dan otot’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Tentunya, hal ini tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya
rasa sakit).

Apabila telah disembelih, tetapi sapi tidak segera mati, bolehkah kita menusuk jantungnya?

Semestinya, pantang bagi seorang muslim untuk menusuk jantung setelah sapi disembelih. Biarkan saja jantung menjalankan tugasnya memompa darah keluar tubuh. Semakin lama jantung memompa darah, maka semakin banyak darah dipompa keluar. Semakin sedikit timbunan darah dalam daging, maka dagingnya menjadi semakin awet.

Hasil penelitian para ilmuwan dalam :

  1. Blackmore pada tahun 1984,
  2. Blacman et al. Pada tahun 1985
  3. Daly et al. Pada tahun 1988
  4. dan Anil et al. Pada tahun 1995

di 4 negara yang berbeda membuktikan bahwa setelah disembelih, sapi memerlukan waktu lebih lama untuk benar-benar mati. Hal ini diduga disebabkan oleh ukuran tubuh sapi yang lebih besar dibandingkan kambing, domba, rusa, ayam, dll. Untuk itu, sebaiknya kita menunda hingga sapi benar-benar mati dan tidak perlu
menusuk jantungnya. Bila kita menusuk jantungnya, maka jantung akan sobek dan kehilangan fungsinya untuk memompa darah, sehingga darah tidak dapat maksimal terpompa keluar tubuh. Selain itu, sobeknya jantung diduga akan menimbulkan kejutan rasa sakit yang amat sangat bagi hewan ternak yang bersangkutan.

 

Sources :

www.themodernreligion.com

www.sikhphilosophy.net

www.scribd.com/…/Summary-Repor

http://agama.kompasiana.com

 

  • Muhammad Taufik Hidayat
  • Book Writer and Motivator

Residence :

 

 

Tentang Muhammad Taufik Hidayat

I am Islamic motivator and book writer
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s